GUBAHAN FANDHY

Blog Resmi Arfandi Wahyu

  • Home
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerita Rakyat
  • Wajoku Wajota
  • Teacher
    • Materi dan Bahan Ajar
    • Tugas
  • Home
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerita Rakyat
  • Koleksi
    • Musik
    • Video
  • Gubahanku
    • Puisiku
    • Coretan
    • Quotes
      • Office
  • Wajoku Wajota
  • Teacher
    • Materi dan Bahan Ajar
    • Tugas
  • Rubrik

Halo....Assalamu Alaikum

Halo....Assalamu Alaikum
Selamat datang di Blog Resmi Arfandi Wahyu

Sabtu, 11 Juli 2015

Sekilas Tentang Danau Tempe

 WAJOKU     No comments   



 
 
SEKILAS TENTANG DANAU TEMPE
 
Danau Tempe terletak di tiga Kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidenreng Rappang dan Kabupaten Soppeng. Danau Tempe dikelilingi oleh tujuh kecamatan yang tersebar di tiga kabupaten diantaranya: Kecamatan Tempe, Belawa, Tanasitolo dan Sabbangparu di Kabupaten Wajo; Kecamatan Donri-Donri dan Marioriawa di Kabupaten Soppeng dan Kecamatan Pancalautang di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Danau Tempe di masa lalu digambarkan oleh Pelras (2006) sebagai jalur pelayaran. Pada saat itu, Danau Tempe menjadi poros dua jalur pelayaran strategis di Sulawesi Selatan, yaitu jalur yang menghubungkan Selat Makassar dengan Teluk Bone serta jalur Teluk Bone hingga hulu Sungai Walanae. Jalur pertama yaitu jalur pelayaran dari Selat Makassar melalui Pare-Pare, Danau Sidenreng, Danau Tempe dan keluar ke Teluk Bone melalui Sungai Cenranae. Sedangkan jalur kedua yaitu dari Teluk Bone masuk melalui sungai Cenranae dan terus sampai hulu Sungai Walanae yang berada di daerah pegunungan Soppeng, Bone dan Maros. Kedua jalur ini menjadi jalur strategis pada masa itu karena belum adanya jalur darat yang menghubungkan tempat-tempat tersebut. Catatan sejarah ini diperkuat oleh adanya bukti fisik berupa jangkar besar yang ditemukan di dasar Danau Tempe. Jangkar yang tingginya kurang lebih dua meter tersebut sekarang dipajang di depan museum Saoraja Mallangga di Kota Sengkang. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kapal yang berlayar di Danau Tempe merupakan kapal-kapal besar sehingga memberikan gambaran bahwa Danau Tempe di masa lalu merupakan danau yang cukup dalam untuk dapat dilalui oleh kapal-kapal besar.
Adanya jalur pelayaran yang cukup besar melalui Danau Tempe pada masa lalu dapat juga ditelusuri melalui perubahan kondisi geografis Danau Tempe dari masa ke masa. Ambo Tang Daeng Matteru mengungkapkan empat tahapan perubahan bentuk fisik dari lokasi di sekitar Danau Tempe. Tahap pertama yaitu pulau Sulawesi bagian selatan masih terpisah dari pulau Sulawesi oleh selat yang membentang dari selat Makassar ke Teluk Bone. Kondisi ini diperkirakan berlangsung pada masa sebelum Masehi. Tahap kedua yaitu ketika terjadi pendangkalan dan penyempitan pada kedua ujung selat sehingga membentuk sebuah danau besar. Tahap kedua ini diperkirakan berlangsung pada abad pertama sampai abad ke-16 Masehi. Proses pendangkalan terus terjadi sehingga terbentuk empat sub danau. Masa ini adalah tahap ketiga perubahan kondisi geografis yang diperkirakan berlangsung pada abad ke-17 sampai abad ke-18. Empat sub danau yang terbentuk pada tahap ini yaitu Danau Alitta,  Danau Sidenreng, Danau Tempe dan Danau Lapongpakka. Pada tahap ini juga terbentuk beberapa danau kecil lainnya, salah satunya adalah danau Lampulung. Pada tahap ke-4, tepatnya pada  abad ke-19 hingga ke-20, Danau Alitta telah hilang. Danau yang tersisa yaitu Danau Tempe, Danau Sidenreng, Danau Lapongpakka dan Danau Lampulung. Pada masa ini, jalur yang menghubungkan Selat Makassar dengan Teluk Bone telah benar-benar terputus. Perubahan kondisi geografis tersebut di atas digambarkan sbb.:
Perubahan Kondisi Geografis Danau di Sulawesi Selatan
 Sumber: diolah dari http://www.belawa.com/
Sejarah perubahan kondisi fisik yang diungkapkan oleh Ambo Tang Daeng Matteru sebagian besar dapat dikonfirmasi berdasarkan catatan sejarah yang diungkapkan oleh Christian Pelras. Danau Besar yang terbentuk pada tahap kedua juga disebutkan dalam buku Manusia Bugis karya Christian Pelras tersebut. Pelras (2006) menceritakan bahwa pada tahun 1945, seorang asal Portugis bernama Manuel Pinto menggambarkan Danau Besar tersebut dapat dilalui oleh sebuah kapal layar Portugis yang panjang dan dilengkapi deretan dayung di kedua sisinya (futsa besar). Ukuran danau tersebut digambarkan lebarnya lima legua Portugis dan panjangnya 20 legua Portugis (lebarnya sekitar 25 km dan panjangnya 100 km menurut Pelras). Dalam bahasa Bugis, Danau Besar dinamai “Tappareng Karaja” yang artinya Danau Besar, sementara dalam bahasa Makassar Danau Besar tersebut dinamai “Tamparang La’baya” yang artinya laut air tawar. Masyarakat Bugis mengartikan kata “tappareng” dengan kata danau, sementara masyarakat Makassar mengertikan kata “tamparang” dengan kata laut. Terlepas dari perbedaan pengertian antara suku Bugis dan Makassar, pemberian nama oleh kedua suku yang berada di sekitar danau tersebut membenarkan keberadaan danau yang sangat besar di masa lalu. Sedemikian besarnya hingga suku Makassar menyamakannya dengan Laut.
Tidak banyak informasi sejarah yang menjelaskan mengapa pendangkalan Danau Besar bisa terjadi. Informasi sejarah pendangkalan Danau Besar yang ada hanya dimulai pada abad ke-14. Pendangkalan yang menyebabkan perubahan kondisi geografi Danau Besar dikisahkan oleh Pelras (2006:11) yaitu:
“sejak sekitar abad ke-14 Masehi, penebangan hutan secara luas, pembukaan lahan pertanian secara terus menerus di dataran rendah dan lembah, ditambah pembukaan atau perluasan lahan perkebunan dan penanaman palawija dengan sistem ‘tebang bakar’ atau ‘babat-bakar’ yang terlalu intensif di perbukitan dan di pegunungan, telah menyebabkan perbukitan gundul, lembah tandus serta musnahnya berbagai jenis flora. Hal itu pada gilirannya merupakan penyebab terjadinya erosi yang parah dan pendangkalan danau serta muara sungai”
Pada bagian lain, Pelras (2006: 74) menyebutkan:
“Selama berabad-abad aliran lumpur dalam jumlah yang besar yang terbawa arus sungai Saddang, Walanae, dan Bila mengubah ‘Danau Besar’ (Tappareng Karaja) di abad ke-16 itu menjadi tiga danau lebih kecil dan lebih dangkal”

Dari informasi sejarah yang diungkapkan oleh Pelras, dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pendangkalan terjadi akibat erosi dan sedimentasi yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Bahkan setelah enam abad kemudian, erosi dan sedimentasi masih terus berlanjut yang tentu saja disebabkan karena aktivitas yang menyebabkan erosi dan sedimentasi juga masih terus berlanjut. Jika demikian halnya, maka Danau Tempe ke depan hanya akan ada dalam teks-teks sejarah.
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 Comments:

Posting Komentar

ABOUT ME

ABOUT ME
WELLCOME IN MY BLOG

Cari Blog Ini

Popular Posts

  • PAPPASENG DAN PANGAJA ORANG BUGIS
  • KUMPULAN LAGU BUGIS KLASIK
  • Paradigma Sipakatau: Jati Diri dan Filosofi Hidup Masyarakat Bugis
  • KUMPULAN PUISI CHAIRIL ANWAR
  • PASSAPU SEBAGAI IDENTITAS SUKU KAJANG
  • Ilmu “DOTI” pada Kepercayaan mistik Masyarakat Ammatoa dalam Konteks Kearifan lokal masyarakat kajang
  • DEMOKRASI (AMARADEKANGENG) ALA MASYARAKAT BUGIS
  • LAGU FOLKLORE BUGIS - GANDONG GANDONG
  • Yngwie J. Malmsteen, King Of Neoclassical Rock
  • MENJADI GURU KEKINIAN DI JAMAN MILENIAL

Contact us

Nama

Email *

Pesan *

Label

  • AKU DAN INSPIRASIKU
  • CERITA RAKYAT
  • GUBAHAN CORETANKU
  • Rubrik
  • SASTRAWAN INDONESIA
  • TUGAS
  • VIDEO
  • WAJOKU
  • Wajoku Wajota

Video of the Day

Get All The Latest Updates Delivered Straight Into Your Inbox For Free!

Popular Posts

  • PAPPASENG DAN PANGAJA ORANG BUGIS
    PAPPASENG DAN PANGAJA ORANG BUGIS   Pappaseng dan pangaja artinya adalah pesan pesan dan nasihat dari orang orang tua (s...
  • KUMPULAN LAGU BUGIS KLASIK
    KUMPULAN LAGU BUGIS KLASIK  TUDANG ALE-ALE Tudangnga ale-aleku Napole anging laloe Uingerangngi jancitta Jancitta pura...
  • Paradigma Sipakatau: Jati Diri dan Filosofi Hidup Masyarakat Bugis
      Paradigma Sipakatau: Jati Diri dan Filosofi Hidup Masyarakat Bugis (Arfandi Wahyu)   Masyarakat Bugis, merupakan salah satu suku ban...
  • KUMPULAN PUISI CHAIRIL ANWAR
    Puisi Chairil Anwar Aku AKU Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku in...
  • PASSAPU SEBAGAI IDENTITAS SUKU KAJANG
    ”PASSAPU SEBAGAI IDENTITAS SUKU KAJANG” Kajang merupakan salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Se...
  • Ilmu “DOTI” pada Kepercayaan mistik Masyarakat Ammatoa dalam Konteks Kearifan lokal masyarakat kajang
    Ilmu “DOTI” pada Kepercayaan mistik Masyarakat Ammatoa dalam Konteks Kearifan lokal masyarakat kajang A.    Nilai nila...
  • DEMOKRASI (AMARADEKANGENG) ALA MASYARAKAT BUGIS
    Kata amaradekangeng berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau bebas. Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lont...
  • LAGU FOLKLORE BUGIS - GANDONG GANDONG
    LAGU FOLKLORE BUGIS  " GANDONG-GANDONG (Arfandi Wahyu) " Menginterpretasi sebuah karya lagu klasik dalam sebuah mult...
  • Yngwie J. Malmsteen, King Of Neoclassical Rock
      Bagi para penggemar music Rock terutama yang beraliran neo classical rock, pasti mengenal sosok gitaris yang satu ini. Yngwie Malms...
  • MENJADI GURU KEKINIAN DI JAMAN MILENIAL
    MENJADI GURU KEKINIAN DI JAMAN MILENIAL Adanya tantangan industri 4.0, mengharuskan generasi untuk merambah ke dimensi kekinian...

Blogger templates

  • Beranda

LINK PENTING

  • KEMENAG RI
  • DOWNLOAD VST AUDIO TORRENT

Total Tayangan Halaman

Pages

  • Beranda

Blogroll

Pengikut

Arsip Blog

About

Copyright © GUBAHAN FANDHY | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates